Selasa, 11 Januari 2011

Kuis PBO MULTI THREADING

1. Apa yang dimaksud dengan Thread, Proses, dan Multi threading ?
Jawab :
Thread adalah unit aktifitas
Prosese adalah unit kepemilikan sumberdaya
Multithreading adalah cara pengeksekusian yang mengizinkan beberapa thread terjadi dalam sebuah proses, saling berbagi sumber daya tetapi dapat dijalankan secara independen

2. Sebutkan dan jelaskan kelas-kelas dan interface yang ada dalam multithreading !
Jawab :
  • Thread : membuat thread di program
  • ThreadDeath : membersihkan thread yang telah berakhir eksekusinya
  • ThreadGroup : mengelompokkan thread-thread
3. Buatkan kelas turunan dari kelas thread !
Jawab :
Public class GreatRace extends Thread
{
.....
}

Sabtu, 13 November 2010

Fenomena Bencana Alam di Indonesia

Fenomena Banjir

Banjir merupakan peristiwa terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat

Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai.

Di banyak daerah yang gersang di dunia, tanahnya mempunyai daya serapan air yang buruk, atau jumlah curah hujan melebihi kemampuan tanah untuk menyerap air. Ketika hujan turun, yang kadang terjadi adalah banjir secara tiba-tiba yang diakibatkan terisinya saluran air kering dengan air. Banjir semacam ini disebut banjir bandang.

Penyebab banjir – Diantara beberapa penyebab banjir adalah:
  1. Ilegal Loging (Penebangan hutan liar)
  2. Bertumpuknya sampah pada saluran air, sehingga terjadi penyumbatan pada saluran air.
  3. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan penanaman kembali pada daerah / hutan hutan yang baru di tebangi.
  4. Tidak adanya lagi tanah resapan untuk digunakan air sebagai tempat baginya beristirahat dikala hujan turun. tidak ada lagi lahan hijau sebagai tempat resapan air tanah. akibatnya, ketika hujan tiba, tanah menjadi tergerus oleh air dan kemudian air terus meluncur tanpa adanya penghalang alami yang kemudian menyebabkan banjir. dan masih banyak lagi penyebab-penyebab banjir yang lainya.
Dalam siklus hidrologi dimana kondisi alam ideal, maka air hujan yang jatuh di daerah hulu sungai akan terjadi tiga hal yaitu:
  • air akan langsung mengalir di permukaan tanah dan masuk ke sungai,
  • air akan tertahan oleh tumbuhan lalu sebagian meresap kedalam tanah dan sebagian ada yang mengalir di permukaan dan ada yang menguap kembali
  • air yang meresap ke dalam tanah menjadi aliran air tanah.
Bagaimana jika kondisi alam menjadi tidak ideal, misalnya tumbuhan menjadi sedikit?

  1. Aliran permukaan akan menjadi lebih besar, mengakibatkan erosi tanah yang akan mengalir bersama-sama menuju sungai. Terjadilah pendangkalan sungai.
  2. Air yang meresap kedalam tanah semakin sedikit karena tak ada tumbuhan sebagai penahan air hujan dan tanah mengalami erosi. Maka persediaan air tanah semakin menipis.
  3. Apabila curah hujan sangat tinggi maka aliran permukaan bersama-sama sedimen akan mengalir deras menuju hilir sungai dan meluap di daerah sekitarnya. Terjadilah banjir.
Jadi secara garis besar salah satu penyebab terjadinya banjir di daerah dataran rendah baik itu perkotaan maupun dataran rendah lain adalah adanya penggundulan hutan di daerah hulu sungai. Penyebab lainnya adalah buruknya sistem drainase, berkurangnya daerah resapan air karena adanya permukiman dan lain-lainnya.

Fenomena Banjir di Perkotaan.

Pada realitanya ibukota negara (Jakarta) hampir selalu mengalami fenomena bencana banjir tiap tahunnya. Jakarta terendam banjir karena curah hujan yang tinggi ditambah dengan banjir kiriman dari kota Bogor. Memang tak hanya Jakarta yang mengalami kebanjiran. Hampir setengah pulau Sumatera dan pulau Jawa terendam oleh banjir. Banjirpun bisa ditetapkan sebagai bencana nasional. Kemarau berkepanjangan membuat awan hujan mengumpul dan bertumpah ruah pada bulan penghujan. Kota-kota besar di Jawa Barat yang terkena oleh banjir kiriman dari Bogor antara lain Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi. Kota yang paling parah adalah Bekasi. Hampir 90% dari kota Bekasi terendam air. Hal ini juga menimpa saudara-saudara saya yang tinggal di Bekasi. Betapa mengenaskan melihat rumah-rumah terendam banjir setinggi lebih dari 1 meter.

Banyak masyarakat mengeluh dan menyalahkan kota Bogor atas kiriman banjir tersebut. Namun kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada kota Bogor. Banjir ini merupakan fenomena alam, hal itulah yang dikatakan oleh gubernur DKI Jakarta. Tapi menurut saya hal itu tidak sepenuhnya benar. Menurut argumentasi yang saya dengar, kebanyakan kota Bogor telah gundul akibat banyaknya pembangunan perumahan, real estate, lahan bisnis maupun perekonomian yang mengakibatkan semakin sedikitnya lahan untuk menadah air hujan. Kota Bogor merupakan kota Hujan, dimana frekuensi hujan disana amat tinggi sehingga sering terjadi banjir dan kota Bogor sendiri berada disekitar pegunungan sehingga sulitnya mendapatkan akses untuk mengeluarkan air bah tersebut dari kota Bogor. Alhasil, bendungan air di Bogor tak cukup kuat menampung air dan membuat air bah tersebut mengalir dalam kurun waktu tertentu ke kota-kota disekitarnya.

Solusi apa yang dapat dilakukan untuk penanganan masalah banjir di perkotaan??

Setiap kali bencana banjir menimpa kawasan yang menjadi langganan banjir, pihak pemerintah setempat tidak memiliki mekanisme jitu untuk dapat secara khusus menanggulangi banjir yang melanda daerah tersebut. Selain itu, baru pada saat air bah datang, semua pihak terpikir untuk menyiapkan upaya khusus untuk mengantisipasi masalah ini.

Padahal, bencana tak harus ditanggulangi saat dia datang. Musibah tersebut dapat diantisipasi dan dikelola secara baik, agar bencana itu tak terjadi. Kepekaan dan pendeteksian dini banjir seharusnya telah melekat dalam konsep penanggulangan bencana seperti banjir dan longsor di perkotaan. Setidaknya, bila tak mungkin sesegera mungkin kita menghilangkan penyebab utama banjir dan longsor itu, masyarakat memiliki bekal cukup untuk awas terhadap bencana dan segala dampak yang ditimbulkannya. Mereka perlu diberikan pengetahuan untuk menyiapkan sesuatu, setidaknya untuk mengurangi resiko yang lebih besar.

Mitigasi bencana merupakan salah satu kegiatan yang amat penting dalam penanggulangan bencana, karena kegiatan ini merupakan kegiatan sebelum terjadinya bencana yang dimaksudkan untuk mengantisipasi agar dampak yang ditimbulkan dapat dikurangi. Masyarakat yang berada di daerah rawan bencana maupun yang berada di luar sangat besar perannya, sehingga perlu ditingkatkan kesadarannya, kepeduliannya dan kecintaannya terhadap alam dan lingkungan hidup serta kedisiplinannya terhadap peraturan dan norma-norma yang ada.

Sesungguhnya kita telah memiliki badan khusus untuk menanggulangi bencana. Kita juga memiliki aparat untuk mengelola hutan agar tak sebabkan erosi dan menggelontorkan lumpur ke pemukiman penduduk. Kita juga memiliki banyak aparat dan ahli-ahli yang mengelola sungai besar, sungai kecil dan penataan bendungan serta saluran irigasi. Tapi, kita tak punya kesiapan untuk benar-benar menggerakkan seluruh potensi dan aparat yang ada untuk menguliti masalah banjir dan longsor serta memiliki jawaban serta solusi tepat untuk kawasan yang rawan bencana alam tersebut.

Misalnya, sungguh-sungguh membenahi daerah aliran sungai dan jaringan irigasi serta mengelola dengan benar, penebangan hutan di perkotaan. Tak dapat dipungkiri bahwa banjir dan longsor yang kerap terjadi di daerah perkotaan, tak terlepas dari tangan-tangan manusia yang seenaknya merusak hutan. Kita sering kali menyepelekan masalah itu, sehingga berakibat fatal.

Kita tak tahu pasti, apakah moratorium logging itu kini masih efektif atau memang perlu dikaji lagi. Mungkin, untuk alasan agar dapat hutan dapat dikelola menjadi bagian peningkatan kesejahteraan rakyat, pilihan tersebut dapat pula menjadi pertimbangan. Tapi, mengaji soal jeda tebang itu, perlu pula pemikiran matang dan ditimbang secara seksama dari segala segi. Terutama, dijaga keras agar kita tak menafikan penghutanan kembali dan reboisasi dengan rencana lebih rapi dan melibatkan masyarakat.

Kepada pemerintah, baik tingkat pusat, kabupaten/kota dan provinsi, kita harapkan agar tak salah pula mengambil langkah kebijakan. Para pegiat organisasi masyarakat yang selama ini bekerja untuk pelestarian alam, serta masyarakat sekitar hutan, didengar pula pertimbangan mereka.

Lantas, bagaimana cara kita menyikapi bencana yang secara terus-menerus mendera negeri kita tercinta ini??

Selain Tuhan, semua yang sesuatu itu adalah mahluk. Bahwa karena bencana adalah mahluk Tuhan, sehingga amarah terhadap bencana indentik dengan menghindari kehendak dan kekuasaan Tuhan.Dalam pandangan sufistik, kehadiran musibah, penganiayaan atau kematian, justru disikapi dengan ungkapan alhamdulillah, dilanjutkan dengan innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Memuji kebesaran dan kekuasaan Tuhan atas segala sesuatu, bahwa DIAlah yang paling berhak atas semuanya ini. Segalanya dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Bersabar dan ikhlas menerima segala ketentuan Tuhan termasuk bencana, di sisi lain dianggap sebagai salah satu cara Tuhan meningkatkan dan mengangkat derajat kemanusiaan di hadapan Tuhan. Olehnya, pada tataran tertentu bencana yang telah begitu seringkali menimpa bangsa ini, dengan korban jiwa dan material yang tak terhitung jumlahnya, tidak selamanya harus diratapi apalagi menjadi manusia fatalistik, akan tetapi bencana pun mampu menjadi media untuk meningkatkan proses pengenalan dan kesepahaman kita dengan Tuhan.

Namun masalahnya, dampak yang ditimbulkan oleh bencana, tidak serta merta selesai dengan sikap mengembalikannya pada Tuhan. Erich From menyebut sikap seperti ini sebagai bentuk escape from freedom, lari dari kebebasan. Bukankah segala kerusakan di langit dan di bumi terjadi akibat kelalaian manusia itu sendiri? Sebuah refleksi cultural masa lalu, dimana Orang tua kita sering kali melarang dengan dogmatisasi ‘pamali’ melakukan aktivitas membawa dan mencuci peralatan dapur di sungai. Pesannya, bahwa “penjaga sungai akan marah bahkan bisa mencelakaimu”. Sepintas dengan nalar seorang anak yang masih kecil, mempercayainya dan ikut mewariskan pesan itu kepada generasinya.

Hemat saya, ini merupakan cara moyang kita mengapresiasi dan menjaga kelestarian dan kelangsungan hidup ekosistem dan seluruh elemen yang berkepentingan pada sungai. Sisa makanan dan minuman yang melengket pada peralatan dapur dikhawatirkan dapat meracuni mahluk hidup di sungai dan akan mengotori kebersihan air sungai. Pesan tersebut seharusnya mensugesti cara pandang kita di masa kini, bahwa jika sisa makanan dan minuman saja tidak diperbolehkan mengotori sungai, seharusnya pembabatan hutan dan penumpukan sampah di hulu dan hilir tidak dilakukan. Karena secara perlahan tapi pasti dapat menimbulkan ketidak-seimbangan kehidupan manusia itu sendiri.

Sejarah perkembangan peradaban manusia pada mulanya memiliki sikap dan kepercayaan akan ketertundukan dan ketergantungannya pada alam. Para arkeolog dan filolog (peneliti teks-teks kuno) menunjukkan bahwa manusia sangat takut dan begitu memuliakan alam. Bahkan sebagian diantaranya rela dijadikan sebagai persembahan (dibunuh) dengan tujuan agar alam tidak ‘marah’ dan kehidupannya tetap bisa berjalan normal. Ritual ini dilakukan ketika terjadi bencana seperti gunung meletus, banjir, hasil tanamannya rusak dan lain sebagainya. Sistem kepercayaan seperti ini disebut animisme atau dinamisme. Sebuah kepercayaan yang menjadikan unsur-unsur alam sebagai ‘Tuhan’. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, peradaban kita terjebak pada cara pandang yang materialis pragmatis. Kita justru ingin menaklukkan alam dan menjinakkan alam. Sehingga prilaku mengeksploitasi alam demi kepentingan dan keuntungan serta laju pembangunan cenderung merusak eksistensi alam yang seharusnya diposisikan sebagai mitra kemanusiaan yang berhak diperlakukan secara manusiawi.Era yang biasa disebut era globalisasi ini, dimana alam semesta dipandang sebagai small village (kampung kecil), memang tidak lagi menjadikan alam sebagai ‘Tuhan’, tetapi secara radikal dijadikan sebagai ‘budak-budak’ pelayan hasrat manusia. Bencana sebagai salah satu elemen kehidupan di muka bumi adalah ‘bentuk protes dan rintihan alam’ kepada Tuhan, bahwa posisi manusia sebagai khalifah telah terdistorsi. Sehingga banjir bandang, tsunami, kebakaran, longsor beserta segala bentuk bencana kemanusiaan, adalah cara Tuhan memediasi ekspresi alam guna menyapa kelalaian manusia pada tugas dan fungsinya sebagai khalifah, sebagai agen of universe (agen alam semesta).

Manusia sebagai agen of universe adalah sebuah paradigma terhadap alam beserta seluruh mahluk, baik yang nampak maupun yang tidak, sebagai sesuatu yang interdependensi (saling ketergantungan), memiliki nilai dan manfaat bagi kepentingan manusia dan kemanusiaan. Manusia sebagai ciptaan adalah mahluk yang paling mulia diantara semua ciptaan Tuhan. Amanah yang diembannya sangat besar dalam memelihara harmonisasi alam semesta. Dimana paradigma ini secara ontologis melampaui eksistensi manusia sebagai agen of social (agen masyarakat). Karena pengabdiannya terbatas hanya pada ranah social kemasyarakatan. Sedangkan manusia sebagai agen alam semesta dituntut memadukan aspek kasih sayang Tuhan dengan statusnya sebagai khalifah dalam mengabdi pada segala ciptaan, mengabdi untuk semua.

Untuk itu, hemat saya, bahwa setiap cara kita menyikapi bencana, tidaklah cukup hanya melakukan rehabilitasi pisik prasarana maupun rehabilitasi sosial psikologis. Karena yang juga tak kalah pentingnya adalah melakukan rehabilitasi paradigma terhadap keberadaan bencana dengan segala yang ditimbulkannya. Paradigma manusia sebagai agen of universe merupakan penjabaran perilaku kemanusiaan, baik agamawan, pejabat publik, politisi, pengusaha, aktivis pemuda dan mahasiswa maupun elemen masyarakat lainnya untuk berperan dengan posisi yang berbeda demi kemaslahatan dan kebajikan ber-sesama. Kemaslahatan dan kebajikan yang tidak bias dalam dikotomi kepentingan mereka dan kami. Namun diikat oleh spiritualitas kebersamaan selaku sesama mahluk Tuhan di muka bumi.

Bencana memang sesuatu yang niscaya bagi alur sejarah kehidupan manusia. Sebagaimana niscayanya Kemurahan Tuhan yang melimpahkan ilmu-Nya kepada manusia untuk melahirkan rumusan strategis menyangkut penanggulangan bencana. Sehingga kehadiran bencana dibumi ini telah menggugat kekhalifaan umat manusia. Jika memang demikian, lalu mengapa yang kecil dan yang lemah pun harus ikut menjadi korban? Wallahu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA



Senin, 08 November 2010

TUGAS V-CLASS PBO

(=)-------------------(=)
NAMA
: RAHMA NIA HARINI
NPM : 11108563
KELAS : 3 KA 16
(=)-----------------------------(=)

Jawaban :
1. 1.
KelasKendaraanSuper.java

class KelasKendaraanSuper{
pulic void methodAsli(){
string roda;
string stang;
string sadel;
System.out.println("Method milik KelasKendaraanSuper jalan");
}
public static void jalankan (String[]args){
KelasKendaraanSuper oks=new KelasKendaraanSuper();
oks.methodAsli();
}
void rem (String[]args){
KelasKendaraanSuper oks=new KelasKendaraanSuper();
oks.methodAsli();
}
}

SubKelasMotor.java

class SubKelasMotor extends KelasKendaranSuper{
public void methodAsli(){
System.out.println("method overrided jalan");
}
public void methodJumping(){
roda=2;
System.out.println("kendaraan ber-roda "+roda)
Super.methodAsli();
}
public static void main(String[]args){
Subkelas osk=new SubKelas();
osk.methodASli();
osk.merhodJumping();
}
}


SubKelasMobil.java

class SubKelasMobil extends KelasKendaranSuper{
public void methodAsli(){
System.out.println("method overrided jalan");
}
public void methodMundur(){
roda=4;
System.out.println("kendaraan ber-roda "+roda)
Super.methodAsli();
}
public static void main(String[]args){
Subkelas osk=new SubKelas();
osk.methodASli();
osk.merhodMundur();
}
}

2.
Lingkaran.Java

public class Lingkaran{

private double jari;//attribute yang di hide
public Lingkaran(){
jari=0;
}
private double luas(double j){//encapsulation
return 22/7*r**2;
}
public void setJari(double jari){
this.jari=jari;
}
public double getJari(){
return jari;
}
Public double getLuas(){
return luas(jari);
}
}


Minggu, 31 Oktober 2010

Sambutan Sumpah Pemuda 28 Oktober

Pidato !

Saudara-saudara beserta hadirin yang terhormat,
Assalamualaikum Wr. Wb.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Esa, atas berkah dan rahmatNya kepada kita sekalian, sehingga di pagi yang cerah ini kita masih diperkenankan memperingati Hari Sumpah Pemuda yang setiap tahun selalu kita peringati bersama seluruh rakyat Indonesia dimanapun juga kita berada.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Dari tahun ke tahun kita selalu memperingati Hari Sumpah Pemuda. Namun apalah artinya sebuah peringatan jika tidak tahu arti dan makan dari peringatan tersebut. Sesuai dengan ikrar atau sumpahyang mereka nyatakan bersama saat itu, tumbuhlah kesadaran dari pemuda-pemuda kala itu untuk mengikat diri dalam persatuan dan kesatuan bangsa, bahasa dan tanah air yaitu INDONESIA. Kenapa mereka mau mengukatkan diri dalam satu wadah yakni Indonesia. Jawabannya karena mereka yang dirinya Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, atau Jong-jong yang lainnya yang merasa senasib dan sepenanggungan dibawah penindasan dan penjajahan Kolonial. Tujuan pemuda kita satu, yaitu Merdeka, bebas dari penindasan dan penjajahan, bebas menentukan nasib dan masanya sendiri.
Lalu pada tanggal 28 Oktober para pemuda dari pemuda daerah berkumpul mengadakan kongres pemuda untuk menyatakan sikap dan menentukan perjuangan untuk mencapai satu tujuan. Disitulah mereka menyatakan sumpahnya untuk berbangsa satu, berbahasa satu dan bertanah air satu yaitu Indonesia. Saat itu pulalah lagu kebangsaan Indonesia raya untuk pertama kalinya diperdengarkan dan dibawakan langsung oleh penciptanya pemuda Wr. Supratman.
Saudara-saudara sekalian yang terhormat,
Sesuatu dengan tema kita pada Hari Sumpah Pemuda ini dimana pemuda adalah tulang punggung pembangunan bangsa dan negara, maka sudah selayaklah pada peringatan Sumpah Pemuda kali ini kita tingkatkan persatuan dan kesatuan demi keutuhan bangsa dan negara. Kita tingkatkan pula perjuangan mengisi kemerdakaan dengan pembangunan segala bidang, sehingga dengan demikian tidak sia-sia amanat dari para pahlawan kita yang cinta pada kemerdekaan.
Dengan semangat Sumpah Pemuda, marilah kita bersama-sama menyatakan kebulatan tekad, sehingga tidak memberikan peluang kepada pihak manapun untuk mengacaukan jalannya pembangunan di negara ini. Juga tidak memberi peluang sedikitpun kepada para pemalas yang hanya suka berpangku tangan, sehingga demikian tujuan negara menuju masyarakat yang adil dan makmur serta merasa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 bisa segera terwujud.
Dengan semangat Sumpah Pemuda, dengan bertanah air satu tanah air Indonesia, dengan berbangsa satu bangsa bangsa Indonesia, dan bengan berbahasa satu bahasa Indonesia kita dalam persatuan dan kesatuan bangsa dan negara dalam menghadapi segala tantangan dan usaha-usaha pihak lain, baik dari dalam maupun dari luar yang ingin memecah belah Negara Persatuan Republik Indonesia tercinta ini. Percayalaj bahwa kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang kuat yamng mampu menyelesaikan semua tantangan. Karena hanya dengan percaya dirilah kita bisa menjadi bangsa yang besar. Tunjukanlah pada dunia bahwa bangsa Indonesia mampu mengurus dirinya sendiri.
Selamat berjuang wahai Pemida Indonesia, peeratlah rasa persatuan dan kesatuan di antara kalian, bangunlah jiwa ini dengan rasa nasionalisme dan mentalitas bangsa yang tinggi dalam menghadapi setiap tantangan yang dihadapinya, niscaya cita-cita bangsa akan segera tercapai. Merdeka.....!!!!!!!!!
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Senin, 18 Oktober 2010

Pesan Dalam Saputangan

Cerpen!

Hari ini Raksa puLang kampus sendirian. Yudha, sahabatnya yang biasa puLang bersamanya, hari iyu sakit. Ia tidak masuk sekoLah. Raksa menyusuri jaLanan menuju kerumahnya. di sebuah warung makan di pinggir jaLan, Raksa meihat sebuah mobiL. Walaupun kaca mobL itu tertutup, Raksa bisa meLihat seorang anak perempuan di daLamnya. Anak itu duduk sendirian di kursi beLakang. Ia tampak geLisah, bahkan menangis.
Anak perempuan itu LaLu tampak menutup wajahnya dengan sapu tangan. Secara tak sadar, Raksa terus memperhatikan anak itu. Anak itu juga memperhatikan Raksa. Akan tetapi, tiba-tiba muncuL dua LeLaki dewasa dari warung makan. Sepertinya mereka baru seLsesai makan. Dua LeLaki dewasa itu masuk ke mobiL itu. Yang satu menyetir, yang satunya Lagi duduk di beLakang, di sebeLah anak itu.
Raksa baru sadar, ternyata ada seheLai saputangan tergeLetak di jaLan. Di sekitar tempat mobiL tadi parkir. Saputangan itu berwarna kuning dengan motif bunga. Tampak ada bordir nama Rhara. Pasti saputangan ini miLik anak tadi, gumam Raksa di daLam hati.
" Kalau bertemu anak perempuan itu Lagi, bakaL gw kembaLikan," pikir raksa.
Keesokan harinya, di kampus, Raksa mendengar kabar tentang pencuLikan. raksa langsung teringat pada anak yang kemarin ia Lihat. Ia semakin yakin kaLau yang dicuLik adaLah anak itu, seteLah ia meLihat foto seLebaran di papan pengumuman. Wajah anak di foto itu, sama persis dengan yang diLihat Raksa. Nama anak itu Rhara. Sama seperti bordiran di saputangan yang ditemukan Raksa.
" Duh, sayang gw Lupa mencatat nomor mobiL itu," sesaL Raksa.
" MobiL siapa, ka? " tanya Yudha penasaran.
Raksa segera menceritakan pengaLamannya kemarin.
" Oya, gw menemukan sesuatu di tempat kejadian itu! " kata Raksa Lagi.
SepuLang dari kampus Raksa mengajak Yudha ke rumahnya. Ia mengeLuarkan saputangan miLik Rhara. " Ini dia yang gw temuin tadi. "
Yudha mengamati saputangan itu. Ia LaLu mengendusnya.
" Kok, bau kunyit, ya? Sepertinya seteLah makan, ia mengusap muLutnya dengan saputangan ini. "
Raksa LaLu berpikir beberapa saat, adakah petunjuk yang berhubungan dengan kunyit. SeteLah berpikir beberapa saat, Raksa masuk kamar mandi. Dibasuhnya saputangan itu dengan air sabun. Tiba-tiba muncuL deretan huruf berwarna merah membentuk tuLisan "SEMUT E11".
" Semut? " gumam Raksa dan Yudha bingung.
Beberapa saat kemudian, Yudha berkata, " Kalau tidak saLah, Semut itu adaLah kompLeks yang ada di dekat keLurahan. Semesta Mutiara, sering disingkat jadi Semut. "
" Benar juga. Ayo, kita kesana sekarang! " ajak Raksa.
Setibanya di kompLeks Semesta Mutiara, mereka Langsung mencari rumah di BLok E nomor 11. Mereka meLihat sebuah mobiL diparkir di rumah itu.
" Itu mobiL yang gw Lihat kemarini! " Seru Raksa.
Raksa dan Yudha mendekati rumah itu dan mengintip dari pagar besi. Mereka meLihat seorang Laki-Laki keLuar dari daLam rumah.
" Itu Laki-Laki yang gw Lihat kemarin, " Bisik Raksa.
" Sepertinya Rhara disekap di situ, " bisik Yudha yakin.
" Sebaiknya gw teLpon om gw duLu. Om Gito, kan , poLisi, " saran Yudha. Raksa setuju.
SeteLah di teLpon Yudha, Om Gito bergerak cepat. Ia memimpin poLisi Lainnya untuk mengepung rumah itu. Tak berapa Lama, para pencuLik itu berhasiL diringkus.
PoLisi LaLu membebaskan Rhara yang disekap di gudang. Ketika bertemu Raksa, dia Langsung mengenaLi Raksa. Ketakutan di wajah Rhara, berangsur hiLang.
" Loe baca pesan gw, ya? " tanyanya.
Raksa mengangguk.
" Memangnya pesan apa? " tanya Om Gito bingung.
" Waktu disekap di dapur, aku menuLis aLamt rumah pencuLik ini dengan kunyit di sapu tanganku, " cerita Rhara.
" Sapu tanganku berwarna kuning. Jadi tuLisan itu tidak akan terLihat kecuaLi..."
" Kalau di beri air sabun, " sambung Raksa.
" Iya, benar. Noda kuning kunyit akan berubah jadi warna merah jika diberi senyawa basa. Dan sabun termasuk basa. Pintar kaLian, " Puji Om Gito.
" Kalau mau tahu Lebih jeLas tentang basa, baca di buku kimia, " tambah Rhara, ketika meLihat wajah Yudha yang agak bingung.
Rhara akhirnya kembaLi ke orangtuanya. Orangtuanya sangat berterima kasih kepada Raksa dan Yudha. Betapa bangga hati Raksa dan Yudha.

Kamis, 07 Oktober 2010

Pemrograman Berorientasi Objek

^^^^^^^^^^^^^^^
Rahma Nia Harini
11108563
3 ka 16
^^^^^^^^^^^^^^^^^


TUGAS!!!

1. Sebutkan komponen2 yang terdapat dalam Java Development Kit?
Jawab :
  • Compiler(javac)
  • Interpreter(java)
  • Applet viewer(appletviewer)
  • Debugger(jdb)
  • Java class library(jcl)
  • Header dan stub generator(javah)
  • Java documentation(javadoc)
  • Source Code Java API
2. Apa yang dimaksud dengan token dan identifier?
Jawab :
Token merupakan elemen terkecil di program yang mempunyai arti bagi kompilator. Kompilator bertugas membaca karakter-karakter di kode sumber dan menerapkan aturan-aturan secara progresif menjadi potongan lebih besar seperti identifier, ekspresi, kalimat, dan kelas. Token Java dibagi 5, yaitu:

1. Identifier
2. Keyword
3. Literal
4. Operator
5. Separator

Identifier adalah token yang merepresentasikan nama. Dalam Java, identifier adalah nama yang diberikan untuk variable, class, atau method. Identifier boleh dimulai dengan huruf, underscore (_) atau tanda dollar ($). Identifier adalah case sensitive (membedakan huruf besar/ kecil) dan tidak ada batas maksimum.

3. Sebutkan kegunaan dari operator, separator, keyword break, dan keyword continue?
Jawab :
Operator melakukan komputasi terhadap satu/dua objek data. Operan yang
dioperasikan dapat berupa literal, variabel, atau nilai yang dikirim method.
Separator adalah menginformasikan ke compiler java mengenai adanya kelompok kode program.
Keyword break yaitu untuk keluar dari kendali percabangan switch, dan untuk keluar dari kendali perulangan.
Keyword continue adalah untuk lompat ke perulangan berikutnya. Baris-baris program setelah keyword continue dalam blok perulangan saat itu berarti diabaikan.

4. Buatlah program yang menampilkan tulisan : "Belajar java memang mudah jika dilakukan dengan tekun"!
Jawab :
public class Main {

public static void main(String[] args) {
System.out.println("Belajar java memang mudah jika dilakukan dengan tekun");
}}

5. Buatlah contoh program lain yang menggunakan keyword break dan keyword continue ?
Jawab :

keyword break
public class ContohBreak {

public static void main(String args[]) {

int i = 0;

do {

i++;

System.out.println(i);

if (i==6) break; //untuk keluar dari kendali percabangan switch/ untuk keluar dari kendali perulangan
} while (i <= 8);

}

}

keyword continue
public class contohContinue {

public static void main(String args[]) {

int i=0;

do {

i++;

if (i==3) continue; //untuk segera lompat ke perulangan berikutnya. Pernyataan-pernyataan setelah keyword continue dalam blok perulangan saat itu berarti diabaikan

System.out.println(”iterasi ke : “+i);

if (i==4) break;

} while(i <= 8);

}

}

Fungsi Bahasa

Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol social.

  • Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri

Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi.

  • Bahasa sebagai Alat Komunikasi

Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita.

  • Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial

Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.

  • Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial

Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.