Senin, 18 Oktober 2010

Pesan Dalam Saputangan

Cerpen!

Hari ini Raksa puLang kampus sendirian. Yudha, sahabatnya yang biasa puLang bersamanya, hari iyu sakit. Ia tidak masuk sekoLah. Raksa menyusuri jaLanan menuju kerumahnya. di sebuah warung makan di pinggir jaLan, Raksa meihat sebuah mobiL. Walaupun kaca mobL itu tertutup, Raksa bisa meLihat seorang anak perempuan di daLamnya. Anak itu duduk sendirian di kursi beLakang. Ia tampak geLisah, bahkan menangis.
Anak perempuan itu LaLu tampak menutup wajahnya dengan sapu tangan. Secara tak sadar, Raksa terus memperhatikan anak itu. Anak itu juga memperhatikan Raksa. Akan tetapi, tiba-tiba muncuL dua LeLaki dewasa dari warung makan. Sepertinya mereka baru seLsesai makan. Dua LeLaki dewasa itu masuk ke mobiL itu. Yang satu menyetir, yang satunya Lagi duduk di beLakang, di sebeLah anak itu.
Raksa baru sadar, ternyata ada seheLai saputangan tergeLetak di jaLan. Di sekitar tempat mobiL tadi parkir. Saputangan itu berwarna kuning dengan motif bunga. Tampak ada bordir nama Rhara. Pasti saputangan ini miLik anak tadi, gumam Raksa di daLam hati.
" Kalau bertemu anak perempuan itu Lagi, bakaL gw kembaLikan," pikir raksa.
Keesokan harinya, di kampus, Raksa mendengar kabar tentang pencuLikan. raksa langsung teringat pada anak yang kemarin ia Lihat. Ia semakin yakin kaLau yang dicuLik adaLah anak itu, seteLah ia meLihat foto seLebaran di papan pengumuman. Wajah anak di foto itu, sama persis dengan yang diLihat Raksa. Nama anak itu Rhara. Sama seperti bordiran di saputangan yang ditemukan Raksa.
" Duh, sayang gw Lupa mencatat nomor mobiL itu," sesaL Raksa.
" MobiL siapa, ka? " tanya Yudha penasaran.
Raksa segera menceritakan pengaLamannya kemarin.
" Oya, gw menemukan sesuatu di tempat kejadian itu! " kata Raksa Lagi.
SepuLang dari kampus Raksa mengajak Yudha ke rumahnya. Ia mengeLuarkan saputangan miLik Rhara. " Ini dia yang gw temuin tadi. "
Yudha mengamati saputangan itu. Ia LaLu mengendusnya.
" Kok, bau kunyit, ya? Sepertinya seteLah makan, ia mengusap muLutnya dengan saputangan ini. "
Raksa LaLu berpikir beberapa saat, adakah petunjuk yang berhubungan dengan kunyit. SeteLah berpikir beberapa saat, Raksa masuk kamar mandi. Dibasuhnya saputangan itu dengan air sabun. Tiba-tiba muncuL deretan huruf berwarna merah membentuk tuLisan "SEMUT E11".
" Semut? " gumam Raksa dan Yudha bingung.
Beberapa saat kemudian, Yudha berkata, " Kalau tidak saLah, Semut itu adaLah kompLeks yang ada di dekat keLurahan. Semesta Mutiara, sering disingkat jadi Semut. "
" Benar juga. Ayo, kita kesana sekarang! " ajak Raksa.
Setibanya di kompLeks Semesta Mutiara, mereka Langsung mencari rumah di BLok E nomor 11. Mereka meLihat sebuah mobiL diparkir di rumah itu.
" Itu mobiL yang gw Lihat kemarini! " Seru Raksa.
Raksa dan Yudha mendekati rumah itu dan mengintip dari pagar besi. Mereka meLihat seorang Laki-Laki keLuar dari daLam rumah.
" Itu Laki-Laki yang gw Lihat kemarin, " Bisik Raksa.
" Sepertinya Rhara disekap di situ, " bisik Yudha yakin.
" Sebaiknya gw teLpon om gw duLu. Om Gito, kan , poLisi, " saran Yudha. Raksa setuju.
SeteLah di teLpon Yudha, Om Gito bergerak cepat. Ia memimpin poLisi Lainnya untuk mengepung rumah itu. Tak berapa Lama, para pencuLik itu berhasiL diringkus.
PoLisi LaLu membebaskan Rhara yang disekap di gudang. Ketika bertemu Raksa, dia Langsung mengenaLi Raksa. Ketakutan di wajah Rhara, berangsur hiLang.
" Loe baca pesan gw, ya? " tanyanya.
Raksa mengangguk.
" Memangnya pesan apa? " tanya Om Gito bingung.
" Waktu disekap di dapur, aku menuLis aLamt rumah pencuLik ini dengan kunyit di sapu tanganku, " cerita Rhara.
" Sapu tanganku berwarna kuning. Jadi tuLisan itu tidak akan terLihat kecuaLi..."
" Kalau di beri air sabun, " sambung Raksa.
" Iya, benar. Noda kuning kunyit akan berubah jadi warna merah jika diberi senyawa basa. Dan sabun termasuk basa. Pintar kaLian, " Puji Om Gito.
" Kalau mau tahu Lebih jeLas tentang basa, baca di buku kimia, " tambah Rhara, ketika meLihat wajah Yudha yang agak bingung.
Rhara akhirnya kembaLi ke orangtuanya. Orangtuanya sangat berterima kasih kepada Raksa dan Yudha. Betapa bangga hati Raksa dan Yudha.

0 komentar:

Posting Komentar